PEMBELAJARAN IPS DI SD: JAUH DARI TUJUAN

Oleh: Mukayanah

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 22 Tahun 2006, tujuan pembelajaran IPS di tingkat Sekolah Dasar adalah sebagai berikut:

  1. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya
  2. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial
  3. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan
  4. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global

Sejenak mari kita merenung. Sejauh ini, sudahkah pembelajaran IPS di SD mengacu pada tujuan tersebut?

Selama ini fokus guru-guru IPS hanya sebatas pada pengenalan konsep masyarakat dan sosial (tujuan pertama). Tujuan yang lain, pengembangan kemampuan dasar berpikir logis dan kritis, pengembangan komitmen dan kesadaran nilai-nilai sosial, serta pengembangan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan sebegainya hanya sepintas lalu saja. Artinya, belum ada keseimbangan antara pengembangan sisi kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan). Guru mengasah kemampuan berpikir siswa sebatas berpikir konsep IPS.

Benarkah demikian?

Luangkan waktu sebentar untuk menengok proses pembelajaran IPS di SD sekitar rumah. Seorang guru bertanya, “Di manakah ibukota Kamboja?”, atau “Pulau manakah yang mirip kepala burung?” atau lebih ekstrem lagi, “PR-nya sudah dikerjakan belum?”

Setelah itu, apa yang terjadi? Siswa akan menjawab pertanyaan guru sesuai apa yang telah mereka hafalkan. Termasuk pertanyaan ekstrem yang terakhir tadi, siswa akan menjawab dengan dua alternatif jawaban: sudah atau belum. Amati lagi reaksi guru. Saat siswa menjawab sudah, guru akan tersenyum senang. Dan ketika siswa menjawab belum, guru hanya akan bertanya, “kenapa tidak dikerjakan?”

Okelah, pertanyaan berhenti di situ. Apapun jawaban yang diberikan siswa, guru tidak akan peduli. Karena fokus permasalahannya adalah, bahwa siswa yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah akan menyandang label “siswa malas”. Pun seandainya siswa itu TIDAK mengerjakan PR dikarenakan terlalu sibuk membantu pekerjaan orang tua, atau sibuk ikut ayahnya ke sawah, atau lupa, atau saudaranya ada yang datang dan mengajaknya jalan-jalan, atau yang lainnya lah. Bukankah itu sosial dan manusiawi???

Apakah selama ini IPS memang hanya diadakan untuk menjadikan siswa yang pandai menjawab soal ibu kota, nama gunung, arah mata angin, kenampakan alam, sumber daya alam, dan lain-lain yang semuanya sebatas konsep pengenalan?

Ironis!

Sementara guru di Indonesia masih disibukkan dengan bagaimana cara agar siswanya paham tentang ini-itu, guru di luar sana sudah fokus kepada penanaman nilai-nilai. Sebutlah Amerika. Pembelajaran IPS SD di sana bukan pada hafalan materi, melainkan pada bagaimana cara antri, bagaimana cara menghargai orang lain, bagaimana cara bertanya kepada orang lain, bagaimana cara berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, dan sebagainya. Dan itu dirangkum menjadi sebuah kurikulum yang membingkainya.

Bagaimana yang terjadi di Indonesia? Ujian Nasional, teknik mengajar, beban belajar dalam kurikulum, masih selalu menjadi momok sampai detik ini. Lantas kapan tujuan pembelajaran yang sebenarnya akan terwujud? Wallahu a’lam.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: